Latest News

Tampilkan postingan dengan label Pesona Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesona Alam. Tampilkan semua postingan
Desa Leuwohung dianggap sebagai salah satu desa yang menarik di wilayah Kedang Lembata. di Kedang. Desa ini dibangun di atas tepian pantai. Sebagian besar bangunan tampak dipinggir pantai dan sebagian lagi di kaki bukit, memberikan ilusi bahwa rumah-rumah tersebut tampak seperti tersusun ke atas.  Bagian tertua dari desa ini dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu yang berada disebuah tempat yang namanya LEUTUANG, (Kampung Lama)  terdiri dari arsitektur-arsitektur jalan dulu khas pegunungan.
Seperti ini tampak desa leuwohung tampak dari atas, akan sangat menarik ketika pada musim hujan begitu terlihat hujau kampungnya. Di desa ini juga terdapat banyak tempat-tempat menarik yang belum dikunjungi, bagi yang ingin melihat lebih sudi kiranya untuk mampir suatu saat nanti.







Bagi masyarakat Kedang, Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Ebang atau rumah adat khas merupakan bentuk identitas diri yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kedang.

Rumah adat lebih khusus rumah adat khas orang Kedang ini dapat kita jumpai hampir di semua kampung dan desa di wilayah ini. Hampir di setiap keluarga memiliki bangunan unik berbentuk lonjong bersegi empat ini.

Ebang memiliki beberapa fungsi baik sebagai tempat untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan juga sebagai lumbung pangan, tempat untuk menyimpan hasil panen.

Karenanya melalui tempat ini, segala urusan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial seperti masalah adat istiadat mereka selesaikan di tempat ini. Para tetua adat dari suku-suku setempat datang duduk bersama untuk membahas dan menyelesaikan semua persoalan secara arif dan bijaksana.

Selain sebagai tempat untuk bermusyawarah, Ebang berfungsi strategis untuk menyimpan hasil panen. Biasanya, pangan disimpan di loteng yang terbagi dalam bilik-bilik kamar berukuran kecil terbuat dari bambu atau papan. Di tempat ini tersimpan berbagai jenis pangan seperti padi, jagung dan kacang-kacangan.

Keberadaan Ebang sangat penting terutama di masa-masa sulit atau krisis pangan. Bila krisis pangan terjadi dan berlangsung lama akibat perubahan iklim atau bencana alam lainnya maka mereka akan mengambil dari stok pangan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, ketersediaan pangan juga sangat berguna untuk membatu warga lain yang berkekurangan.

Selain sebagai tempat musyawarah, Ebang juga merupakan simbol perdamaian dan pemersatu keluarga dan masyarakat. Biasanya, dalam urusan adat, pejabat pemerintah turut diundang hadir untuk menyaksikan penyelesaian adat oleh para tetua adat. Di tempat ini semua masalah akan dibicarakan secara terbuka dan dalam suasana kekeluargaan dan persaudaraan.

Hasil musyawarah akan disampaikan kepada semua pihak terutama pihak-pihak yang terkait dengan sengketa atau masalah social itu. Semua persoalan akan diselesaikan secara adil karena semua pihak akan diperlakukan secara setara, adil dan bermartabat dengan memperhatikan kepentingan baik korban maupun pelaku.

Di beberapa kampung, hukum dan sanksi adat masih diberlakukan sehingga membuat warga yang melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum adat akan merasa jerah. Pada umumnya, sanksi adat diberikan dalam bentuk gong atau gading dengan sejumlah hewan jika masalah tersebut berkaitan dengan urusan kawin mawin seperti si pemuda menghamili anak gadis orang lain tetapi tidak mau bertanggung jawab. Atau saksi adat juga bisa diberikan dalam bentuk sumbangan batu, pasir atau semen untuk pembanguan desa apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut berkaitan dengan masalah pemerintahan dan kemasyaratan pada umumnya.

Bangunan Ebang biasanya terbuat dari bahan lokal seperti kayu berbentuk balok atau bambu dengan atap dari rumput alang-alang. Beberapa tahun belakangan ini, di sejumlah kampung atap Ebang diganti dengan seng. Bangunan Ebang dilengkapi pula sebuah bale-bale besar, tempat untuk bermusyawarah.

Bangunan Ebang terdiri dari 4 tiang/tonggak utama dilengkapi dengan lawen (papan berbentuk bundar) berfungsi untuk menahan hama tikus atau biinatang pengerat lainnya agar tidak masuk ke dalam lumbung.

Usia bangunan Ebang bisa mencapai puluhan tahun tergantung dari perawatan. Bila ada kerusakan maka penduduk setempat secara bergotong royong melakukan perbaikan, entah kerusakan atap atau pada bagian lainnya. Sifat kegotong royongan di daerah ini masih cukup terpelihara meskipun perlahan mulai terkikis oleh arus perkembangan zaman.

Ebang meskipun merupakan salah satu kekhasan masyarakat Kedang, namun keberadaannya selalu dalam bayangan akan ancaman modernisasi. Karena itu adalah kewajiban  semua pihak untuk menjaga dan merawat tradisi unik ini sebelum hilang ditelan arus perubahan zaman. 

@Muh. Amiruddin Salem

Sumber: http://www.floresbangkit.com 




Deretan cantik pohon kelapa di Pantai, seolah memanggil traveler untuk datang. Debur ombak dan panorama di pantai ini pun tak kalah menggoda. Sepanjang perjalanan, traveler akan melewati beberapa pantai, seperti Pantai Bareng, Mampir dan beberapa pantai lainnya. Jika Anda hendak menuju Teluk LINGLEWANG, pasti juga akan melewati pantai-pantai ini. Sunset di sini sangat indah. Jadi, tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam


Sesuai namanya, di pantai ini terdapat banyak batu granit beragam ukuran. Yang menarik lagi, pantai ini seakan akan terbagi menjadi beberapa pantai terpisah karena bebatuan dan pepohonan yang memisahkan bagian bagian pesisir pantai, sehingga semakin terasa seperti private beach. Laut


Pesona kembalinya matahari ke peraduan,  dengan langit yang melatar belakangi bak’ layar beraneka warna menayangkan pergantian sejuta keindahan warna dalam hitungan detik, sebelum kegelapan jatuh dalam senyap. Selalu ada beberapa detik keheningan yang indah, ketika matahari menyatu dengan bumi, dalam suasana temaram berangsur gelap, dan  lampu lampu kota mulai berpendar. I love those few seconds… ketika matahari melumat bumi dalam kemesraan penuh totalitas.


Awan biru di langit menghiasi kampungku yang bertahun2 aQ kutinggalkan. Udara sejuk di pagi hari terasa segar sekali yang tidak pernah kurasakan di tempatku sekarang. Semua hanya ada polusi mulai dari asap kendaraan hingga bau sampah ataupun got-got yang mampet. Aku merasa bersyukur bahwa tidak selamanya di kampung itu tidak mengenakkan, tapi sangat menyegarkan. Dan jasmani rohani juga merasakan segarnya udara di kampung yang jauh dari polusi dan rutinitas

Pantai ini merupakan sebuah pantai yang terletak di Desa Luwohung, Kc. Buyasuri Kab. Lembata NTT salah pantai yang unik dan cantik yang berada Nusa Tenggara Timur. Kondisi pantainya masih sangat asri dan alami serta menyajikan pesona pantai yang indah dan menarik.

Pantai Desa Leuwohung memiliki keunikan tersendiri yang lain daripada yang lain. Biasanya sebuah pantai memiliki pasir putih atau warna lain ditepinya, tidak begitu dengan pantai di Desa Leuwohung ini. Ditepi pantai dihiasi dengan kerikil-kerikil yang lembut dengan ukuran sebesar jari kelingking hingga telapak tangan.

Tetapi kita bisa menikmati mandi disini ketika musim hujan, karena memilik arus dan gelombang yang sangat besar dan kedalamannya cukup curam. Disini juga terdapat bongkahan batu-batu besar yang memiliki keunikan tersendiri.










Desa leuwohung merupakan desa yang terletak didaerah pesisir. Utara berhadapan dengan laut, timur berhadapan dengan Desa Mampir dan selatan berhadapan dengan Kampung Lama & Gunung Uyeleun sedangkan barat berhadapan dengan Desa Bareng. Dimana kondisi alam terdiri dari sedikit daratan rendah untuk pemukiman dan sebagian perbukitan